Sang Penjaga Bahasa itu Penulis




Belakangan ini menulis sudah jadi kebiasaan menyenangkan bagi para netters. Menulis bukan lagi milik mereka yang berkecimpung didunia sastra maupun pewarta.Menulis juga bukan cuman sekedar hobi yang mendatangkan kesenangan dan kepuasan,tapi menulis juga bisa mendatangkan uang alias rejeki yang menggiurkan. Sama seperti penulis didunia nyata.
Menulis sejatinya adalah kegiatan seseorang untuk menginterprestasikan,menyampaikan ide,gagasan, wawasan bahkan imajinasinya dalam bentuk cerita,puisi maupun artikel yang berbentuk reportase ataupun opini.

Membaca merupakan kegiatan selanjutnya yang juga  mulai mengalami pergeseran setelah hadirnya internet. Dahulu membaca berarti membeli buku atau meminjam buku diperpustakaan,sekarang anda bisa membaca berbagai macam artikel,cerita,puisi bahkan novel sekalipun bisa anda temui di internet.
Bahasa yang dipergunakan oleh sang penulis pun mulai mengalami perubahan,kalau dulu penerbit lebih cenderung mendorong penulis untuk menggunakan bahasa penulisan yang baku,yang sesuai dengan EYD,sekarang ini pembaca lebih suka menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami,komunikatif dan ekspresif.

Lalu bagaimana dampak dari perilaku penulis juga pembaca yang menyukai kebebasan dalam gaya bahasa ini? bagaimana dampaknya bagi bahasa induk kita bahasa Indonesia. Saya rasa ini belum menunjukkan gejala yang terlalu bahaya. Karena gaya bahasa bebas itu biasanya hanya disukai oleh segmen tertentu dari masyarakat terutama anak muda. Masih banyak penulis dan pembaca yang lebih menyukai gaya bertutur menggunakan bahasa Indonesia yang baik,karena merasa bahwa banyak masyarakat yang mungkin tidak akan mengerti dengan gaya bicara atau bahasa masyarakat tertentu. Jadi masih banyak penulis yang menyukai peran mereka sebagai sang penjaga bahasa. Mereka masih menulis dengan bahasa yang dimengerti oleh berbagai segmen masyarakat dan suku diseluruh negri ini.

Sedangkan pilihan untuk menggunakan bahasa bebas,bahasa gaul yang lebih komunikatif juga mempunyai penggemarnya sendiri. Jadi apapun gaya bertutur anda semua adalah pilihan masing-masing,yang punya tujuan dan maksud tertentu sesuai kepribadian anda dan masyarakat pembaca yang  dituju. Jadi siapkah anda untuk menjadi sang penjaga bahasa dinegri ini? atau anda lebih suka jadi pendobrak didunia kesusastraan Indonesia?

2 Responses to "Sang Penjaga Bahasa itu Penulis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel